Memang kenapa kalo lulusan D1? Saya adalah lulusan D1, 15
tahun yang lalu. Saya sengaja memang memilih D1 karena kondisi ekonomi orang
tua dan saya tahu, jika saya memaksa kuliah – saya sudah diterima di
Universitas ternama, sebagai passion saya untuk menjadi arsitek – maka kuliah
kakak dan adik-adik saya akan terganggu.
Sebagai lulusan D1, saya sadar diri, bahwa saya akan menjadi
bukan siapa-siapa. Karena dulu tidak ada yang namanya D3 Khusus, saya ikut S1
di luar. Beberapa teman saya memilih untuk tidak kuliah, toh sudah di homebase,
pelaksana, gaji besar, nyaman, aman gak pindah-pindah. Kalo model sekarang,
yang penting gak diangkat AR. Well, that’s their choice.
Alhamdulillah, waktu itu masih ada UPKP, dan saya memilih
untuk harus langsung lulus, karena ini adalah pintu masuk saya untuk bisa
minimal setara dengan non lulusan D1. Saya hanya harus berjuang, (hanya tidur 2
jam sehari), sisanya biar Allah yang menentukan. Dan Allah berkehendak, bahwa
saya memang tidak perlu mengulang UPKP (satu-satunya dari kota saya).
Dan seperti yang saya perkirakan, mengukuhkan ijazah S1 di
SK saya, membuka jalan bagi saya untuk lebih berkembang. Mendapat kesempatan
mengikuti shortcourse luar negeri, misalnya, dan kini Allah menganugerahkan
takdir memperoleh kesempatan beasiswa S2 ke luar negeri kepada saya.
Alhamdulillah.
Banyak cerita mengenai honorer lulusan SMA di DJP, puluhan
tahun yang lalu, tanpa kesempatan D3 Khusus, atau ikut UPKP, namun kini mereka
sudah menjadi Kepala Kantor, bahkan Sekretaris Kementerian Keuangan (..
iykwim). Satu kunci saja, keep
struggling. Berjuang, titik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar