Kamis, 15 September 2016

Saya Lulusan D1

(tulisan ini saya buat setahun yang lalu, but baru di post sekarang, ya iyalah, baru punya blog sekarang.. norak..)

Memang kenapa kalo lulusan D1? Saya adalah lulusan D1, 15 tahun yang lalu. Saya sengaja memang memilih D1 karena kondisi ekonomi orang tua dan saya tahu, jika saya memaksa kuliah – saya sudah diterima di Universitas ternama, sebagai passion saya untuk menjadi arsitek – maka kuliah kakak dan adik-adik saya akan terganggu.

Sebagai lulusan D1, saya sadar diri, bahwa saya akan menjadi bukan siapa-siapa. Karena dulu tidak ada yang namanya D3 Khusus, saya ikut S1 di luar. Beberapa teman saya memilih untuk tidak kuliah, toh sudah di homebase, pelaksana, gaji besar, nyaman, aman gak pindah-pindah. Kalo model sekarang, yang penting gak diangkat AR. Well, that’s their choice.
Alhamdulillah, waktu itu masih ada UPKP, dan saya memilih untuk harus langsung lulus, karena ini adalah pintu masuk saya untuk bisa minimal setara dengan non lulusan D1. Saya hanya harus berjuang, (hanya tidur 2 jam sehari), sisanya biar Allah yang menentukan. Dan Allah berkehendak, bahwa saya memang tidak perlu mengulang UPKP (satu-satunya dari kota saya).

Dan seperti yang saya perkirakan, mengukuhkan ijazah S1 di SK saya, membuka jalan bagi saya untuk lebih berkembang. Mendapat kesempatan mengikuti shortcourse luar negeri, misalnya, dan kini Allah menganugerahkan takdir memperoleh kesempatan beasiswa S2 ke luar negeri kepada saya. Alhamdulillah.

Banyak cerita mengenai honorer lulusan SMA di DJP, puluhan tahun yang lalu, tanpa kesempatan D3 Khusus, atau ikut UPKP, namun kini mereka sudah menjadi Kepala Kantor, bahkan Sekretaris Kementerian Keuangan (.. iykwim).  Satu kunci saja, keep struggling. Berjuang, titik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar