Barangkali tulisan ini akan bermanfaat buat rekan-rekan yang
ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri dengan beasiswa. Buat sebagian
orang, satu-satunya jalan bisa sekolah ke luar negeri adalah dengan beasiswa,
kalo ada PNS yang bisa self-funded mesti ikutan tax amnesty lah.. (lho kok gak
nyambung..)
Pertama kali saya ikut seleksi beasiswa adalah seleksi
beasiswa SPIRIT yang Alhamdulillah gak lulus.. (kok Alhamdulillah? Mmm.. kasih
tau gak ya?)
Next, saya ikutan seleksi Australia Awards. Kalau pengen tau
banyak tentang beasiswa ini cari saja di internet, karena informasi tentang
beasiswa ini bertebaran di muka internet.
Back to story, salah satu syarat ikut seleksi ini adalah
TOEFL PBT 500. Seumur hidup, saya tidak pernah berhasil dapat TOEFL 500,
biasanya hanya berkisar 450 – 470 an pada saat prediction. Once upon a time,
nekat ikutan PBT test di Lembaga UNSRI, soalnya TOEFL PBT di Palembang adalah sesuatu
yang langka, setahun sekali juga belum tentu ada. Nothing to lose, cuma duit
aja yang hilang kalo gak dapat 500, just do it. Surprisingly, I got 513. Pas
banget untuk apply beasiswa AAS. (Moral of the story: test prediction lebih berat daripada PBT-nya, ini silogisme benar gak sih?).
Eh, dengan modal TOEFL satu-satunya yang 513 itu juga saya
bisa ikutan shortcourse ke Malaysia, TOEFL yang barokah.. (nanti kapan-kapan
saya tulis tentang shortcourse ini).
Ups, back to topic. DJP - seperti biasanya - membuat aturan
yang berbeda dengan instansi lain dimana PNS lain gak perlu ada test internal
while DJP mensyaratkan seleksi internal TPA and psikotest, (denger-denger test
ini sudah dihapus mulai tahun 2016, Alhamdulillah). Dengan pengalaman gagal
ikut tes SPIRIT, saya tahu bahwa tes ini gak main-main (lha iyalah, menurut
ngana..?)
Bagian tes verbal adalah yang paling berat menurut saya, sehingga saya
memutuskan untuk membaca kamus Bahasa Indonesia :D kebayang gak sih? Tapi, dengan
kemajuan teknologi, saya cukup download pdf-nya and keep in your phone. Kalo
lagi senggang, nungguin jemputan suami misalnya (eaa..), daripada browsing
facebook, kan mending buka kamus.
Well, sombong sekali saya kalo tidak mengakui bahwa saat itu saya
sangat bergantung dengan pertolongan Allah, dalam sujud malam saya, saya mohon
Dia memberikan yang terbaik untuk saya. Ditambah dengan doa suami yang secara
khusus mendoakan saya agar berhasil menggapai cita-cita saya meneruskan sekolah ke
luar negeri ketika beliau menunaikan ibadah haji. Dan memang jika Allah berkehendak,
maka jadilah.. Saya lulus seleksi internal (the one and only from Palembang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar