Kamis, 15 September 2016

Menuju Beasiswa


Barangkali tulisan ini akan bermanfaat buat rekan-rekan yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri dengan beasiswa. Buat sebagian orang, satu-satunya jalan bisa sekolah ke luar negeri adalah dengan beasiswa, kalo ada PNS yang bisa self-funded mesti ikutan tax amnesty lah.. (lho kok gak nyambung..)

Pertama kali saya ikut seleksi beasiswa adalah seleksi beasiswa SPIRIT yang Alhamdulillah gak lulus.. (kok Alhamdulillah? Mmm.. kasih tau gak ya?)

Next, saya ikutan seleksi Australia Awards. Kalau pengen tau banyak tentang beasiswa ini cari saja di internet, karena informasi tentang beasiswa ini bertebaran di muka internet.

Back to story, salah satu syarat ikut seleksi ini adalah TOEFL PBT 500. Seumur hidup, saya tidak pernah berhasil dapat TOEFL 500, biasanya hanya berkisar 450 – 470 an pada saat prediction. Once upon a time, nekat ikutan PBT test di Lembaga UNSRI, soalnya TOEFL PBT di Palembang adalah sesuatu yang langka, setahun sekali juga belum tentu ada. Nothing to lose, cuma duit aja yang hilang kalo gak dapat 500, just do it. Surprisingly, I got 513. Pas banget untuk apply beasiswa AAS. (Moral of the story: test prediction lebih berat daripada PBT-nya, ini silogisme benar gak sih?).

Eh, dengan modal TOEFL satu-satunya yang 513 itu juga saya bisa ikutan shortcourse ke Malaysia, TOEFL yang barokah.. (nanti kapan-kapan saya tulis tentang shortcourse ini).

Ups, back to topic. DJP - seperti biasanya - membuat aturan yang berbeda dengan instansi lain dimana PNS lain gak perlu ada test internal while DJP mensyaratkan seleksi internal TPA and psikotest, (denger-denger test ini sudah dihapus mulai tahun 2016, Alhamdulillah). Dengan pengalaman gagal ikut tes SPIRIT, saya tahu bahwa tes ini gak main-main (lha iyalah, menurut ngana..?)
Bagian tes verbal adalah yang paling berat menurut saya, sehingga saya memutuskan untuk membaca kamus Bahasa Indonesia :D kebayang gak sih? Tapi, dengan kemajuan teknologi, saya cukup download pdf-nya and keep in your phone. Kalo lagi senggang, nungguin jemputan suami misalnya (eaa..), daripada browsing facebook, kan mending buka kamus.

Well, sombong sekali saya kalo tidak mengakui bahwa saat itu saya sangat bergantung dengan pertolongan Allah, dalam sujud malam saya, saya mohon Dia memberikan yang terbaik untuk saya. Ditambah dengan doa suami yang secara khusus mendoakan saya agar berhasil menggapai cita-cita saya meneruskan sekolah ke luar negeri ketika beliau menunaikan ibadah haji. Dan memang jika Allah berkehendak, maka jadilah.. Saya lulus seleksi internal (the one and only from Palembang).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar