Tanggal 14 Januari adalah tanggal yang ditetapkan AAS untuk saya berangkat ke Sydney bersama rombongan. Sungguh, perjalanan ini penuh drama karena hinggal tanggal 13 saya belum menerima visa dan tiket keberangkatan, padahal saya masih harus berangkat ke Jakarta dulu.
Tentu saja ini membuat saya dan suami cemas karena kami sudah membeli tiket untuk ke Jakarta tanggal 14, dan kalau sampai batal tiket saya dan suami (yang mengantar sampai Jakarta) akan hangus..
Malam pukul 8pm, akhirnya visa dan tiket masuk. Saya jadi berangkat keesokan harinya. Saya lega, tapi ternyata itu adalah awal dari drama yang lebih heboh ketika tiba di Sydney.
Saya landing dengan selamat tgl 15 di Sydney, ada rasa luar biasa ketika melihat benua Australia drai atas, akhirnya saya bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri.. Mewujudkan mimpi saya..
Dan inilah drama itu, ketika sampai bersama kedua teman saya Inggrika dan Purnama, sang penjemput berkat ia hanya ditugaskan menjemput dua orang saja, exclude saya.. what? Saya berusaha mati-matian menghubungi LO universitas yang kebetulan tidak bisa dihubungi pagi itu. Email pun tidak dibalas. Dan saya menggunakan nomor Indonesia.. yang artinya saya kehilangan banyak pulsa.. err..
Pak sopir ngotot tidak mau membawa saya, lalu saya melas akhirnya beliau kasian. Lha gimana nasib saya kalau tidak diantar, ini pertama kali saya menjejak Australia bro.
Lalu beliau bilang, saya akan diantar tapi harus bayar uang transport. Ah, whatever, asal gak nginep di Bandara udahlah..
Saya dibawa pak sopir langsung ke universitas ke bagian akomodasi uni dan menceritakan apa yang terjadi. Pihak uni ternyata belum menerima kabar sama sekali bahwa saya akan datang hari itu.. Pihak AAS Indonesia belum mengirim kabar ke Australia.. Tapi, Alhamdulillah, pihak uni bersedia menanggung biaya transport, dan saya akan diantar ke alamat akomodasi sementara yang sudah saya pesan.
Moral of the story, jangan mau jika AAS menerbitkan visa terlambat, mending minta diundur saja keberangkatannya, toh masa kuliah masih lama. Saya masih untung (eaaa... Indo banget) berangkat bersama dua teman, kalo berangkat sendirian gimana?
The second advice is, pas sampai, langsung beli saja simcard perdana dengan kuota 1gb yang dijual di bandara, harga sekitar $12, jauh lebih murah daripada nelpon dengan nomor Indonesia.
Continued ya..
Senin, 07 November 2016
Jumat, 04 November 2016
You never know, no judge..
Ada orang yang merasa paham situasi orang lain lalu teriak-teriak seolah yang dilakukan orang tersebut salah dan perlu dibetulkan. Mereka hanya melihat apa yang tampak namun tidak tahu cerita di belakangnya.
Saya pernah membaca tentang seorang perempuan yang disebut orang sebagai hedonis karena memiliki banyak sekali koleksi sepatu. Mungkin tiap sepatu hanya bisa dipakai dua bulan sekali, itu pun kalo sepatunya beruntung. Orang-orang mulai mencibir dan menyebutnya konsumtif, berlebihan dan lain-lain.. pandailah orang mencari umpatan. Tapi mereka tidak tau bahwa beliau ini ketika masa kecilnya adalah satu-satu nya murid yang selalu ke sekolah tanpa alas kaki alias nyeker.
Hinaan yang ia terima ketika masa kecil ini membuatnya merasa terobsesi untuk memiliki sebanyak-banyaknya sepatu sebagai pelampiasan. Perilaku nya sebenarnya adalah penyakit psikis yang membutuhkan tindak lanjut. Tapi apapun itu, orang lain tidak berhak men-judge karena mereka tidak berada dalam posisi perempuan tersebut.
Saya pun mendapatkan judgement itu ketika akan memulai pendidikan ke luar negeri. Tega sekali meninggalkan anak-anak, ngejar karir, dan lain-lain.. sekali lagi pandailah orang mencari kata. Tapi mereka tidak pernah di posisi saya.. Tidak tahu bagaimana saya menangis melihat kakak saya menangis untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S1.. Begging.. memohon. Hingga membuat saya membuang jauh-jauh harapan bisa melanjutkan sarjana setelah SMA.
Juga tidak ada yang tahu ketika Ebtanas di SMA saya sudah dipesani sama orang tua bahwa setelah tamat, bahwa saya harus bekerja dan menabung jika ingin kuliah.
Tapi Allah berkehendak lain, saya lulus D1 STAN yang kuliahnya gratis..
Walaupun anak D1 dipandang sebelah mata di tempat saya bekerja dan membuat saya terobsesi untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Dan Allah mewujudkan obsesi itu..
You never know, never judge..
Kini ketika umat Islam berdiri membela agama mereka ada juga yang nyinyir, segitu aja kok marah. Saya kira mereka harus belajar memposisikan diri terlebih dulu sebagai yang dihina. Kenapa masih ada yang membela, itu juga hak mereka, mungkin juga ada cerita dibalik itu..
Kita memakai kacamata dengan warna yang berbeda, bagaimana mungkin bisa memandang sesuatu dalam warna yang sama.
Jadi berhentilah sok tau karena anda tidak tahu.
You never know, never judge..
Saya pernah membaca tentang seorang perempuan yang disebut orang sebagai hedonis karena memiliki banyak sekali koleksi sepatu. Mungkin tiap sepatu hanya bisa dipakai dua bulan sekali, itu pun kalo sepatunya beruntung. Orang-orang mulai mencibir dan menyebutnya konsumtif, berlebihan dan lain-lain.. pandailah orang mencari umpatan. Tapi mereka tidak tau bahwa beliau ini ketika masa kecilnya adalah satu-satu nya murid yang selalu ke sekolah tanpa alas kaki alias nyeker.
Hinaan yang ia terima ketika masa kecil ini membuatnya merasa terobsesi untuk memiliki sebanyak-banyaknya sepatu sebagai pelampiasan. Perilaku nya sebenarnya adalah penyakit psikis yang membutuhkan tindak lanjut. Tapi apapun itu, orang lain tidak berhak men-judge karena mereka tidak berada dalam posisi perempuan tersebut.
Saya pun mendapatkan judgement itu ketika akan memulai pendidikan ke luar negeri. Tega sekali meninggalkan anak-anak, ngejar karir, dan lain-lain.. sekali lagi pandailah orang mencari kata. Tapi mereka tidak pernah di posisi saya.. Tidak tahu bagaimana saya menangis melihat kakak saya menangis untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S1.. Begging.. memohon. Hingga membuat saya membuang jauh-jauh harapan bisa melanjutkan sarjana setelah SMA.
Juga tidak ada yang tahu ketika Ebtanas di SMA saya sudah dipesani sama orang tua bahwa setelah tamat, bahwa saya harus bekerja dan menabung jika ingin kuliah.
Tapi Allah berkehendak lain, saya lulus D1 STAN yang kuliahnya gratis..
Walaupun anak D1 dipandang sebelah mata di tempat saya bekerja dan membuat saya terobsesi untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Dan Allah mewujudkan obsesi itu..
You never know, never judge..
Kini ketika umat Islam berdiri membela agama mereka ada juga yang nyinyir, segitu aja kok marah. Saya kira mereka harus belajar memposisikan diri terlebih dulu sebagai yang dihina. Kenapa masih ada yang membela, itu juga hak mereka, mungkin juga ada cerita dibalik itu..
Kita memakai kacamata dengan warna yang berbeda, bagaimana mungkin bisa memandang sesuatu dalam warna yang sama.
Jadi berhentilah sok tau karena anda tidak tahu.
You never know, never judge..
Langganan:
Postingan (Atom)