Kamis, 15 September 2016

Menuju Beasiswa (3)


Test IELTS adalah hal yang paling menakutkan buat saya secara belum pernah ikut test tersebut and kursusnya not available in Palembang. Satu-satunya yang saya bisa adalah ikut kursus online, nama situsnya: http://www.roadtoielts.com/
Bayar sekitar 600 ribuan ($49.99 tergantung kurs) untuk belajar secara online selama satu bulan (30 hari) karena hanya itulah rentang waktu yang saya miliki.

Belajar online adalah semata tentang kedisiplinan. No teacher that will angry at you if you feel lazy. This is just about you. Kenapa banyak orang yang gagal ikut kursus online karena mereka gagal mengkondisikan dirinya sendiri. Saya, emak 3 anak, tentu tidak punya waktu belajar di pagi hari karena mengurus anak-anak (tanpa pembantu saat itu), juga di siang hari karena bekerja atau sore hari karena harus membantu mengerjakan pr. The only time I have adalah ketika seisi rumah sudah tidur. Minimal saya harus belajar 2 jam sehari atau minimal 1 jam jika saya sangat lelah. Saya belajar bentuk soal IELTS, reading, writing, listening and speaking, yang jauh berbeda dengan TOEFL.

On the test day, saya gugup luar biasa pas bagian speaking. Itulah pertama kali saya berbicara privately dengan bule.. Akhirnya saya fail di bagian itu. Skor overall IELTS pertama saya adalah 6.0 dengan reading 7.0, listening 6.5, writing 6.0, speaking 5.0. Not bad lah untuk seseorang yang baru pertama kali ikut IELTS.

Next test adalah wawancara dan yang wawancara juga istimewa, para professor dari universitas di Australia dan professor terkemuka di Indonesia. Wuih, ini para professor yang biasa kita lihat di TV jadi pewawancara…

Wawancara hanya 15 menit saja, 15 menit yang menentukan. Pertanyaan yang diajukan gak jauh dari apa yang kita tulis di aplikasi. Tapi pertanyaan yang paling berkesan adalah apa efeknya bagi lingkungan kamu jika kamu diterima beasiswa ini. Saya ingat sekali jawaban saya saat itu:

“I am the first person from my city, who ever reach this point. I start from very low level, if I pass this, I can inspire other people who have the same story like me that they can also pass this scholarship and believe they can continue their study abroad.”

Anyway, kalo saya ingat saat itu saya ingin menangis… Eh, tapi saya sempat mikir mungkin itulah yang bikin saya lulus..

Ya saya menerima email itu, Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar