Senin, 07 November 2016

Tiba di Sydney

Tanggal 14 Januari adalah tanggal yang ditetapkan AAS untuk saya berangkat ke Sydney bersama rombongan. Sungguh, perjalanan ini penuh drama karena hinggal tanggal 13 saya belum menerima visa dan tiket keberangkatan, padahal saya masih harus berangkat ke Jakarta dulu.

Tentu saja ini membuat saya dan suami cemas karena kami sudah membeli tiket untuk ke Jakarta tanggal 14, dan kalau sampai batal tiket saya dan suami (yang mengantar sampai Jakarta) akan hangus..

Malam pukul 8pm, akhirnya visa dan tiket masuk. Saya jadi berangkat keesokan harinya. Saya lega, tapi ternyata itu adalah awal dari drama yang lebih heboh ketika tiba di Sydney.

Saya landing dengan selamat tgl 15 di Sydney, ada rasa luar biasa ketika melihat benua Australia drai atas, akhirnya saya bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri.. Mewujudkan mimpi saya..

Dan inilah drama itu, ketika sampai bersama kedua teman saya Inggrika dan Purnama, sang penjemput berkat ia hanya ditugaskan menjemput dua orang saja, exclude saya.. what? Saya berusaha mati-matian menghubungi LO universitas yang kebetulan tidak bisa dihubungi pagi itu. Email pun tidak dibalas. Dan saya menggunakan nomor Indonesia.. yang artinya saya kehilangan banyak pulsa.. err..

Pak sopir ngotot tidak mau membawa saya, lalu saya melas akhirnya beliau kasian. Lha gimana nasib saya kalau tidak diantar, ini pertama kali saya menjejak Australia bro.
Lalu beliau bilang, saya akan diantar tapi harus bayar uang transport. Ah, whatever, asal gak nginep di Bandara udahlah..

Saya dibawa pak sopir langsung ke universitas ke bagian akomodasi uni dan menceritakan apa yang terjadi. Pihak uni ternyata belum menerima kabar sama sekali bahwa saya akan datang hari itu.. Pihak AAS Indonesia belum mengirim kabar ke Australia.. Tapi, Alhamdulillah, pihak uni bersedia menanggung biaya transport, dan saya akan diantar ke alamat akomodasi sementara yang sudah saya pesan.

Moral of the story, jangan mau jika AAS menerbitkan visa terlambat, mending minta diundur saja keberangkatannya, toh masa kuliah masih lama. Saya masih untung (eaaa... Indo banget) berangkat bersama dua teman, kalo berangkat sendirian gimana?

The second advice is, pas sampai, langsung beli saja simcard perdana dengan kuota 1gb yang dijual di bandara, harga sekitar $12, jauh lebih murah daripada nelpon dengan nomor Indonesia.

Continued ya..






Tidak ada komentar:

Posting Komentar